Jumat, 28 Oktober 2016

Eksplorasi geolistrik

http://jualalatgeolistriknaniura.blogspot.co.id/ Pengukuran geolistrik terkait erat dengan geometri susunan elektroda arus serta mungkin yang dipakai. Sebagian konfigurasi elektroda yang umum dipakai yaitu Schlumberger, Wenner, Dipole-dipole, serta Gradient Array. Perkiraan distribusi resistivitas dengan cara horizontal atau lateral dari data sekunder sangat mungkin untuk lakukan pengukuran geolistrik dengan tehnik sounding atau profiling. Geolistrik sounding atau Vertical Electrical Sounding adalah satu diantara tehnik geolistrik 1-Dimensi yang lihat pergantian nilai resistivitas yang beragam pada kedalaman di satu titik. Konfigurasi elektroda yang umum dipakai yaitu konfigurasi Schlumberger. Macam pergantian nilai resistivitas dengan cara lateral bisa diliat dengan cara pas dengan tehnik geolistrik profiling atau geolistrik 2-Dimensi.

Tehnik pengukuran geolistrik di lapangan sudah berkembang dari pemakaian sepasang elektroda sumber arus serta sepasang elektroda penerima lain mungkin jadi sebagian elektroda sekalian (multi electrode). Tiap-tiap elektroda bisa berperan sebagai sumber atau penerima ketika spesifik. Pemakaian elektroda sejenis ini, bisa tingkatkan produktifitas serta menghimpit cost operasional lapangan.

Metoda geolistrik untuk eksplorasi sudah dipakai mulai sejak lama, terlebih untuk kebutuhan pertambangan. Dalam histori, pada th. 1910, dua bersaudara berkebangsaan Prancis, Conrad serta Marcel Schlumberger temukan kalau biji besi bisa dibedakan dari sekitarnya dengan mengukur karakter konduktivitas listriknya. Batuan yang memiliki kandungan biji besi ini semakin lebih konduktif dibanding batuan-batuan di sekelilingnya. Bila satu medan listrik bisa dialirkan kedalam tanah, pengukuran tegangan listrik di permukaan bisa digambarkan sebagai peta yang memberikan daerah-dearah yang mempunyai nilai mungkin listrik yang sama. Di th. 1912, Conrad coba metoda ini pada survey di tambang besi di sekitaran Caen, Normandy. Uji coba yang dikerjakan Conrad serta Marcel ini adalah cikal akan metoda electrical well logging dari perusahaan Schlumberger.

Sabtu, 31 Oktober 2015

Ke Lembang Gunung Batu

Saya sendiri berangkat ke Gunung Batu Lembang bersama kawan-kawan. Saat pertama kali mengunjungi Gunung Batu Lembang saya gagal untuk mencapai puncak dari Gunung Batu Lembang dikarenakan hujan yang lumayan deras sehingga tak memungkinkan untuk naik ke puncak Gunung Batu Lembang.

Saya datang kembali ke Gunung Batu Lembang dua hari kemudian cocoknya seusai final Piala Dunia 2014. Sebab ingin menikmati sunrise, saya bersama kawan-kawan pun langsung berangkat menuju Gunung Batu Lembang kurang lebih pukul 05.00 WIB.

Waktu perjalanan hanya kurang lebih 20 menit dari tempat saya tinggal di daerah Ciumbuleuit. Sesampainya di Gunung Batu Lembang, kita langsung mencari tempat parkir yang tak jauh dari tempat untuk start mendaki menuju puncak Gunung Batu Lembang.

Medan pendakian untuk mencapai Gunung Batu Lembang tak begitu susah. Padahal saya waktu itu mendaki dengan kondisi tanah yang lumayan basah dampak hujan. Tetapi, faktor tersebut tak menjadi persoalan yang lumayan serius.

Seusai akhirnya hingga di Puncak Gunung Batu Lembang, situasi saat itu tetap gelap serta langsung dapat menikmati indahnya panorama Kota Bandung dengan cahaya-cahaya lampu dari rumah ataupun gedung-gedung yang ada di Bandung.

Saya bersama kawan-kawan pun langsung mencari spot yang paling baik untuk menikmati sunrise. Beruntung saya kesana bersama dengan kawan saya yang telah sempat mengunjungi Gunung Batu Lembang sebelumnya sehingga dirinya tahu dimana spot paling baik untuk menikmati sunrise. Seusai menantikan berbagai menit akhirnya timbul juga apa yang ditunggu, matahari yang mulai menampakan dirinya dari hanya setengah tahap sama keseluruhan matahari.

Peristiwa Bandung Lautan Api

Tapi alangkah kagetnya diriku sebab “buku” ini berisi lembaran-lembaran tulisan tangan, yang sekilas mengisahkan momen Bandung Lautan Api beserta berbagai momen lanjutannya. Buku alias lebih cocoknya dokumen yang kupegang ini nyatanya suatu  catatan pengalaman seorang mantan pejuang, suatu  sumber sejarah primer mengenai kondisi perjuangan di Bandung yang sangat berharga. Dokumen ini tampaknya dirancang untuk menjadi suatu  buku, tapi setahuku aku belum sempat menemukan buku sejarah, terutama mengenai Bandung Lautan Api yang ditulis oleh Duniar C. Sitorus, sang penulis naskah. Artinya, dokumen ini begitu berkualitas sebab belum sempat diterbitkan serta mungkin hanya ini satu-satunya yang sempat ada. Entah bagaimana kisahnya dokumen yang wajibnya berada di berkas Dinas Sejarah Militer ini dapat terdampar di kios barang bekas. Tapi yang tentu ada tak sedikit info ekslusif di dalamnya. Info yang selagi ini belum terungkap.

Dokumen “Buku Pusaka Divisi Siliwangi” ini tampaknya sengaja diedarkan oleh ceo militer saat itu, dalam rangka menghimpun seluruh info sejarah yang berhubungan dengan militer terutama Kodam Siliwangi. Pada pembukaan dokumen ini terlampir surat perintah Wakil Kepala Staff AD Mayjen. Gatot Soebroto terhadap staff di bawahnya untuk mengumpulkan “Sejarah TNI; Kumpulan pidato-pidato, tulisan-tulisan, dsb dari pada pemimpin revolusi kita; Mengirimkan laporan periodik mengenai kemajuan pelaksanaan tugas; serta Mengajukan naskah buku-buku tersebut terhadap KASAD untuk disahkan”.

Sebagian besar dokumen “Buku Pusaka Divisi Siliwangi” ini terdiri dari halaman-halaman folio bergaris yang dapat diisi oleh orang-orang yang menerimanya. Tersedia juga seperti panduan penulisan yang berisi daftar tema yang dapat dipilih sebagai bahan pengisahan.

Penulis dokumen yang kudapatkan ini, Kol. H. Duniar Sitorus nantinya bakal tak sedikit mengisahkan kiprah laskar “Pasukan Istimewa” di Bandung. Berdasarkan lampiran riwayat nasibnya, Duniar Sitorus sempat berkarir sebagai prajurit Belanda (KNIL) dari tahun 1938-1942, Komandan Lasykar Pasukan Istimewa pada 17 Agustus 1945 – 30 November 1945, Anak buah Residen pelopor hingga tahun 1946, Kapten dalam Pasukan Siliwangi hingga 1948, serta tak sedikit lainnya. Pengalaman Duniar Sitorus dalam kancah perjuangan, terutama ketika menjadi anak buah lasykar hingga menjadi anak buah pasukan Siliwangi, ditumpahkannya dalam buku ini. Jadi subjek pembahasan tak hanya berkutat seputar Bandung Lautan Api, tapi juga hingga momen hijrah Pasukan Siliwangi ke Jawa Tengah. http://info-wisatadibandung.blogspot.com/2015/08/sejarah-bandung-lautan-api-secara.html