Sabtu, 31 Oktober 2015

Ke Lembang Gunung Batu

Saya sendiri berangkat ke Gunung Batu Lembang bersama kawan-kawan. Saat pertama kali mengunjungi Gunung Batu Lembang saya gagal untuk mencapai puncak dari Gunung Batu Lembang dikarenakan hujan yang lumayan deras sehingga tak memungkinkan untuk naik ke puncak Gunung Batu Lembang.

Saya datang kembali ke Gunung Batu Lembang dua hari kemudian cocoknya seusai final Piala Dunia 2014. Sebab ingin menikmati sunrise, saya bersama kawan-kawan pun langsung berangkat menuju Gunung Batu Lembang kurang lebih pukul 05.00 WIB.

Waktu perjalanan hanya kurang lebih 20 menit dari tempat saya tinggal di daerah Ciumbuleuit. Sesampainya di Gunung Batu Lembang, kita langsung mencari tempat parkir yang tak jauh dari tempat untuk start mendaki menuju puncak Gunung Batu Lembang.

Medan pendakian untuk mencapai Gunung Batu Lembang tak begitu susah. Padahal saya waktu itu mendaki dengan kondisi tanah yang lumayan basah dampak hujan. Tetapi, faktor tersebut tak menjadi persoalan yang lumayan serius.

Seusai akhirnya hingga di Puncak Gunung Batu Lembang, situasi saat itu tetap gelap serta langsung dapat menikmati indahnya panorama Kota Bandung dengan cahaya-cahaya lampu dari rumah ataupun gedung-gedung yang ada di Bandung.

Saya bersama kawan-kawan pun langsung mencari spot yang paling baik untuk menikmati sunrise. Beruntung saya kesana bersama dengan kawan saya yang telah sempat mengunjungi Gunung Batu Lembang sebelumnya sehingga dirinya tahu dimana spot paling baik untuk menikmati sunrise. Seusai menantikan berbagai menit akhirnya timbul juga apa yang ditunggu, matahari yang mulai menampakan dirinya dari hanya setengah tahap sama keseluruhan matahari.

Peristiwa Bandung Lautan Api

Tapi alangkah kagetnya diriku sebab “buku” ini berisi lembaran-lembaran tulisan tangan, yang sekilas mengisahkan momen Bandung Lautan Api beserta berbagai momen lanjutannya. Buku alias lebih cocoknya dokumen yang kupegang ini nyatanya suatu  catatan pengalaman seorang mantan pejuang, suatu  sumber sejarah primer mengenai kondisi perjuangan di Bandung yang sangat berharga. Dokumen ini tampaknya dirancang untuk menjadi suatu  buku, tapi setahuku aku belum sempat menemukan buku sejarah, terutama mengenai Bandung Lautan Api yang ditulis oleh Duniar C. Sitorus, sang penulis naskah. Artinya, dokumen ini begitu berkualitas sebab belum sempat diterbitkan serta mungkin hanya ini satu-satunya yang sempat ada. Entah bagaimana kisahnya dokumen yang wajibnya berada di berkas Dinas Sejarah Militer ini dapat terdampar di kios barang bekas. Tapi yang tentu ada tak sedikit info ekslusif di dalamnya. Info yang selagi ini belum terungkap.

Dokumen “Buku Pusaka Divisi Siliwangi” ini tampaknya sengaja diedarkan oleh ceo militer saat itu, dalam rangka menghimpun seluruh info sejarah yang berhubungan dengan militer terutama Kodam Siliwangi. Pada pembukaan dokumen ini terlampir surat perintah Wakil Kepala Staff AD Mayjen. Gatot Soebroto terhadap staff di bawahnya untuk mengumpulkan “Sejarah TNI; Kumpulan pidato-pidato, tulisan-tulisan, dsb dari pada pemimpin revolusi kita; Mengirimkan laporan periodik mengenai kemajuan pelaksanaan tugas; serta Mengajukan naskah buku-buku tersebut terhadap KASAD untuk disahkan”.

Sebagian besar dokumen “Buku Pusaka Divisi Siliwangi” ini terdiri dari halaman-halaman folio bergaris yang dapat diisi oleh orang-orang yang menerimanya. Tersedia juga seperti panduan penulisan yang berisi daftar tema yang dapat dipilih sebagai bahan pengisahan.

Penulis dokumen yang kudapatkan ini, Kol. H. Duniar Sitorus nantinya bakal tak sedikit mengisahkan kiprah laskar “Pasukan Istimewa” di Bandung. Berdasarkan lampiran riwayat nasibnya, Duniar Sitorus sempat berkarir sebagai prajurit Belanda (KNIL) dari tahun 1938-1942, Komandan Lasykar Pasukan Istimewa pada 17 Agustus 1945 – 30 November 1945, Anak buah Residen pelopor hingga tahun 1946, Kapten dalam Pasukan Siliwangi hingga 1948, serta tak sedikit lainnya. Pengalaman Duniar Sitorus dalam kancah perjuangan, terutama ketika menjadi anak buah lasykar hingga menjadi anak buah pasukan Siliwangi, ditumpahkannya dalam buku ini. Jadi subjek pembahasan tak hanya berkutat seputar Bandung Lautan Api, tapi juga hingga momen hijrah Pasukan Siliwangi ke Jawa Tengah. http://info-wisatadibandung.blogspot.com/2015/08/sejarah-bandung-lautan-api-secara.html

Senin, 05 Oktober 2015

Atlet BMX di Bandung tewas

Atlet BMX di Bandung tewas. Muhammad Taufan Munggaran (17), atlet BMX asal Bandung tewas saat mengikuti turnamen Indonesia Open X-Sport Champonship (IOXC) 2015 yang digelar di Telkom University Convention Hall (TUCH), Sabtu (3/10).

Ajal menjemput saat Taufan melakukan trik 'no handler', yaitu melepas kedua tangan dengan kedua setang di perut, seperti terbang. Sepedanya tidak mendarat dengan mulus dan setang sepedanya sempat menusuk bagian ulu hatinya.

Setelah terjatuh, warga Kebon Gedang Kiaracondong Bandung ini sempat berdiri beberapa detik. Namun dia kemudian ambruk dan pingsan.

Taufan menghembuskan nafas terakhir ketika dalam perjalanan ke Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung, meskipun tim medis sudah memberikan pertolongan pertama.

http://www.gravity-adventure.com/ Atas meninggalnya Taufan, Wakil Rektor Bidang IV Telkom University, Yahya Arwiah, mengucapkan belasungkawa.

"Taufan salah satu anak muda yang punya potensi dan prestasi," ujarnya dalam siaran pers yang diterima merdeka.com, Jakarta, Minggu (4/10).

Yahya meminta apapun yang terjadi atas meninggalnya bocah yang sudah mencintai sepeda BMX sejak SD ini menjadi pelajaran bagi semua pihak.

"Kita sama-sama berduka dan harus dapat mengambil hikmah dari peristiwa ini. Semoga dalam setiap kegiatan apapun kita lebih berhati-hati," pungkasnya.

Pembina BMX Bandung Asep Tubagus Tresnadi, mengatakan Taufan merupakan rider BMX potensial dan sudah menjadi pemain olahraga ekstrem ini. Meski usianya masih sangat muda, Taufan masuk dalam grop profesional.

"Pada ajang kali ini, dia masuk grup pro, yang bersanding dengan peserta dari Perancis dan Hungaria," katanya.

Ajang yang mendapat dukungan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga dan PT Telkom Indonesia ini digelar sejak Jumat (2/10) dan ditutup pada Minggu (4/10) malam.

"IOXC kali ini merupakan yang ketujuh setelah sebelumnya diselenggarakan di Denpasar, Bandung, Makassar, Palembang, Jogja, dan Semarang. Pesertanya datang dari dalam dan luar negeri seperti Thailand, Perancis, dan Hungaria," katanya [merdeka.com]